Perang di antartika mulai menyebar, negara kuat berebut kekuasaan jalur dagang, yang lemah terpaksa runtuh.
Hans yang merupakan tentara bayaran di Medan perang kamona dan blackgold membelot dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya Hans hanya menemukan 1 surat dan seluruh keluarganya yang sudah tewas disana.
Apalah daya Hans dikecam oleh kamona atas kriminal karena melanggar kontrak dengan kamona dan blackgold perusahaan yang mempekerjakannya.
“Bener sih operator atau tentara bayaran gak ada asuransi kesehatan.” Kata Hans dengan santai.
surat itu berisi
“Kamu membelot dari kamona dan blackgold jadi kami mendekatkan keluargamu dengan ajalnya, adil tidak.”
“Yasudah aku dari dulu memang di cap orang kejam sekalian aja jadi orang jahat demi mereka.” Kata Hans dingin sambil membereskan kekacauan.
Hans mengecek seluruh rumahnya dan masih mendapati adiknya yang belum ditemukan dan menyuruhnya untuk tidak pergi.
Walau sakit melihat seluruh keluarganya tinggal nama dia dipaksa dunia tetap tegar.
Hans masih mengingat sebagian besar aset dan rantai suplai kamona jadi Hans main dengan api kecil.
“Sektor alpha, banyak senjata dan 1 gudang logistik besar tapi full penjaga boleh juga buat mokad.” Kata Hans tak berharap.
Hans sudah berangkat dari subuh sampai menemukan seluruh sektor alpha telah diperkuat secara menyeluruh tanpa pengecualian.
Dalam sekejap Hans sudah masuk ke dalam gudang dan mengambil sedikit info dan senjata mereka sebagai timbal balik katanya.
Setelah memasang sebuah alat yang Hans rakit kemarin sore itu meledak bak gunung yang meletus.
“Gw harap negara lu sudah hilang dari peta.” Katanya puas sambil melihat puing puing.
Hans lupa kalau disana itu Antartika tempat terdingin di bumi dan Hans seperti merasa kepanasan di tengah salju jadi dia melepas hoodienya.
Pandangannya hitam lalu foto adiknya dan keluarganya muncul sesaat sebelum ia tak sadarkan diri.
Pandangan Hans mulai pulih,ia bangun di rumah tua sambil terbungkus selimut tebal, suasana rumah sederhana itu seperti pernah ada dihidup Hans.
Hans melihat kakeknya yang sudah lama tiada disana dan berkata
“Usahamu bagus cucuku, namun ingatlah semuanya ada harga-.” Kata kakek itu.
Sebelum kakek Hans menyelesaikan perkataannya Hans sudah terlebih dulu sadar sudah berada di tumpukan salju.
Hans sadar jika ia telah terkena hipotermia kronis yang bisa membuatnya mati kedinginan, ia mencoba bangun dan membuat api untuk menghangatkan diri.
“Aku-aku berhalusinasi kah, kok kakek kelihatan nyata banget padahal sudah meninggal 2 tahun lalu.” Kata Hans seakan tak percaya.
Namun Hans melihat bekas ia berguling-guling dan merasakannya, saljunya masih ada hangatnya sedikit Hampir tak terasa.
Setelah merasa cukup hangat Hans pulang ke rumah
Hanya 1 hal di pikirannya Hans, apa maksud halusinasi kakeknya. Apakah sebuah maksud tersendiri?
Hans mulai menyusun rencana untuk mencari adiknya dan membawanya pulang hidup hidup. Sampai dia menyimpulkan bahwa jauh di Antartika, masih ada markas blackgold yang kemarin hangus terbakar adalah jebakan untuk membuang buang waktu Hans.
“Jadi ini yang mereka lakukan selama pengepungan kemarin, semua jalan yang gw tau sudah diblokir atau itukah.” Kata Hans dengan bingung.
Bingung yang membuatnya berpikiran lebih agresif.
Tanpa menyisakan 1 detik pun Hans berangkat ke tengah dinginnya Antartika mencari adiknya.
“Aku baru tahu aku buta tanpa Lea, tapi dia sibuk dan buron bahkan nomornya saja di hapus.” Kata Hans sambil berjalan tanpa arah.
Hans masih berjalan sampai dia kambuh dengan hipotermianya.
“Aduh, mulai lagi nih suhu minus 40-60 daerah ini masih dingin banget.” Kata Hans. Sakit? Memang tapi tak sebanding jika kehilangan semuanya.
Ledakan terdengar di kejauhan ketika Hans sedang menghangatkan diri, walau tau dirinya belum sepenuhnya pulih dari hipotermia dia tetap memaksakan diri.
“Fati, tunggu kakak janji akan membawamu bahkan jika sudah tak bernyawa.” Kata Hans.
Sesampainya di lokasi ledakan Hans melihat reruntuhan bekas pos blackgold sepertinya ada seseorang yang meledakknnya.
“Kak Kakak, tolong kak aku kejebak di bawah reruntuhan.” Suara familiar seperti fati atau
orang lain.
Hans mencongkel reruntuhan pos blackgold dan mendapati fati tapi dia seperti tak sehangat dulu.
“Dek, kamu kenapa kok gak ngomong?” Kata Hans dengan bingung.
“Protokol penghancuran target Hans Wijaya.” Kata fati, yang ternyata sudah di cuci otak.
Fati hanya memiliki 1 keinginan setelah di cuci otak oleh blackgold. Membuat Hans masuk perangkap, apapun caranya.
“Apakah ini yang kau perjuangkan Hans, saat kelaparan,kehausan,sekarat dan ini jawabanmu?” Kata hati Hans.”
Hans sudah terguncang, dia sudah tidak bisa melakukan apapun bukan karena tidak bisa karena dia mulai merasakan rasa bersalah.
Hans mulai bertarung hanya demi menjaga mentalnya, fisiknya agar mendapat jawaban.
“Apakah ini layak? Aku akan berusaha walaupun menebasnya sudah tidak bisa.” Kata Hans dengan langkah gemetar.
“Ayo kak, sini aku punya linggis hadiah buat kakak.” Kata fati.
Hans makin terpojok sampai dia sangat dekat dengan jurang es yang retak.
Hal paling mengejutkan datang dari Fati dia mendorong kakaknya hingga jatuh dari ketinggian es itu.
“Jatuh? Rasanya seperti di kasur, selamat buat apa gak akan merubah kehidupan ku.” Kata pikiran Hans yang mulai menggerogotinya.
Kretek, suara tulang yang bergeser dan patah. Hans harusnya tidak selamat tapi apakah ini yang dinamakan berbeda alam tetapi mencoba menyatu?
“Kakak, kok gak menyerah sih cuman kasih tau tingginya 500 meter kok kakak bisa selamat sih?” Kata fati.
“Aku emang kalah, fisik ku hancur, mentalku hancur tapi aku tak pernah berfikir musuh menggunakan teknik yang bahkan aku tidak terfikir. Semoga kamu lebih suka aku ketika gak ada.” Kata Hans sambil tertawa.
Hans sudah tiada, setidaknya dia masih berusaha mengembalikan fati. Terimakasih dan aku tau mungkin tidak akurat.
Intinya dendam membuatmu bersemangat tetapi juga membuatmu buta. Ini cerita memiliki banyak arti tergantung persepektif.
ditulis oleh : Octaveasma Eza Ramasandy (7H)







